Serangan Siber ke Infrastruktur Bahan Bakar

Rantai pasokan bahan bakar di Amerika Serikat diserang serangan siber. Mereka harus menurunkan layanan mereka. Penyerang ini mengancam untuk melepaskan data sebesar 100 GB ke internet. Tapi FBI dan badan pemerintah lainnya menutup akses sistem komputasi awan di mana penyerang menyimpan data yang dicuri.

Diduga penyerangnya adalah DarkSide. Mereka beroperasi seperti bisnis. Bahkan mereka punya halaman etis di mana mereka bilang mereka tidak akan menyerang beberapa perusahaan seperti perusahaan medis, pemakaman, pendidikan, non-profit, sektor pemerintah.

Serangan siber ini kemungkinan besar terbantu oleh pandemi karena semakin banyak karyawan mengakses sistem kontrol dari rumah.

Baca beritanya di sini:

Melanjuti cerita ini…

Situs DarkSide memberi pernyataan:

“Our goal is to make money and not creating problems for society. From today, we introduce moderation and check each company that our partners want to encrypt to avoid social consequences in the future.”

Salah satu pelanggan DarkSide (diiyakan secara implisit oleh DarkSide) berada di balik serangan ini.

Artikel lengkapnya ada di sini:

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-05-10/white-house-creates-task-force-to-deal-with-pipeline-breach

Akhirnya pihak korban (Colonial Pipeline) membayar tebusan sebesar $5 juta.

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-05-13/colonial-pipeline-paid-hackers-nearly-5-million-in-ransom

Ransomware bakal menjadi marak di masa depan. Ada kerangka untuk menghadapi masalah ini yang dibagikan oleh teman saya di sekuriti siber:

Perkembangan kasus ini semakin menarik. Geng Tebusan DarkSide keluar dari permainan ini setelah peladen (server), Bitcoin mereka disita.

Moral dari cerita ini adalah:
You don’t mess with Uncle Sam when it comes to oil.

Audit hal teknis dari Colonial Pipeline menemukan masalah yang meresahkan tiga tahun lalu.